Kamis, 18 September 2014

IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA DAN RELEFANSIYA BAGI GEREJA MASA KINI



BAB I
PENDAHULUAN

Kata "gereja" bukanlah seperti anggapan pada umumnya, diartikan sebagai bangunan gedung gereja. Bila kita membandingkan konsep "gereja" yang dibicarakan dalam Alkitab dengan konsep "gereja" umumnya. Menurut pemahaman jemaat pada umumnya akan terdapat perbedaan yang cukup besar. Gereja (eklesia) yang dimaksud dalam Perjanjian Lama adalah "sekelompok orang yang dipanggil" dan sekelompok orang tersebut merupakan sekelompok orang yang memiliki persekutuan yang indah dengan Tuhan dan sesama. Oleh sebab itu, "gereja" yang dimaksud dalam Perjanjian Lama bukan suatu bangunan gedung atau sistem organisasi melainkan sekelompok umat Allah, tubuh Kristus dan persekutuan yang sesungguhnya dalam Tuhan.
Yang dimaksud dengan "orang Kristen", yang terpenting adalah hubungan dengan Yesus Kristus dalam hidupnya. Firman Tuhan mengajar kita untuk bergabung menjadi satu dengan "kepala" - Yesus Kristus, dan juga harus menjadi satu dengan "tubuhNya" - gereja. Dalam perjanjian lama dijelaskan bahwa nabi-nabi dan umat kristen melakukan ibadah di synagoge (rumah ibadah ) yang mereka lakukan dalam hari sabat, hari yang mereka khususkan untuk bersekutu dengan Tuhan. Kehidupan bergereja adalah kehidupan yang indah, dimana dalam kesempatan ini umat Allah memiliki kesempatan untuk bersekutu lebih dekat lagi dengan Allah. Namun bukan hanya mengenai persekutuan kita dengan Allah saja, melainkan dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Ibadah dalam zaman perjanjian lama, berbeda dengan konsep ibadah yang ada dalam perjanjian baru. Perbedaan ini yang harus kita perhatikan agar kita lebih mengerti konsep ibadah dalam dua zaman tersebut. Untuk mengerti apa yang disebut ibadah, penting bagi kita mengetahui terlebih dahulu latar belakang dan sejarah ibadah. Khususnya dari jaman Perjanjian Lama dan Baru.. Dalam Perjanjian Lama, Allah memberi petunjuk-petunjuk yang spesifik mengenai bagaimana, kapan, di mana bertemu atau beribadah kepadaNya. Untuk itu, dalam makalah ini penulis akan menjelaskan konsep ibadah dalam perjanjian lama dan aplikasinya bagi gereja masa kini.






BAB II
IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA DAN RELEFANSIYA
BAGI GEREJA MASA KINI

A.    DEFINISI IBADAH
Kata ibadah sebenarnya berasal dari kosa kata “äbodah” (bahasa Ibrani) atauibadah (bahasa Arab) yang secara harafiah berarti bakti, hormat, penghormatan (homage),[1] suatu “sikap dan aktivitas“ yang mengakui dan menghargai seseorang (atau yang ilahi). Atau dapat juga dikatakan suatu penghormatan hidup yang mencakup kesalehan (yang diatur dalam suatu tatacara), yang implikasinya nampak dalam tingkah laku dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Jadi ibadah disini merupakan ekspresi dan sikap hidup yang penuh bhakti (penyerahan diri) kepada yang ilahi, yang pengaruhnya nampak dalam tingkah laku yang benar. Dalam kesaksian Alorang percayab ada beberapa kata atau ungkapan yang dipakai untuk ibadah. Kata kerja äbad (Bahasa Ibrani) berarti melayani atau mengabdi (seperti pengabdian/pelayanan yang utuh dari seorang hamba kepada tuannya)[2] Sedangkan kata àbodah (bahasa Ibrani), latria (bahasa Yunani) berarti pelayan atau bisa juga berarti pemujaan dan pemuliaan.[3] Disamping itu orang percaya juga bertemu dengan kata histaaweh (proskuneo ;bahasa Yunani) yang berarti sujud atau membungkuk atau meniarap dihadapan tuannya.[4] Jadi sebenarnya ada dua kata kunci dalam pengertian ibadah itu, yaitu sikap hormat (pemuliaan) dan pelayanan (sikap hidup).
Dari pengertian di atas, menjadi jelas bahwa konsep dasar dari ibadah adalah pelayanan atau pengabdian seutuhnya dari hidup orang percaya kepada Allah, yang dinyatakan baik dalam bentuk penyembahan (kultus) maupun dalam tingkah laku orang percaya terhadap orang-orang yang ada diseorang percayar orang percaya.

B. KONSEP IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA
Pada awalnya orang percaya menemukan adanya ibadah atau persembahan pribadi kepada Allah (Kej. 4:4 Habel memberikan persembahan kepada Tuhan ; lihat pula, Kel. 24:26). Hal itu menunjukkan bahwa pada dasarnya ibadah adalah merupakan ungkapan bathin seseorang yang mengakui bahwa Allah berdaulat, penuh kuasa dan baik. Atau ibadah adalah menunjukkan ketinggian spritual seseorang yang disertai ungkapan pujian dan syukur kepada Tuhan, karena Ia patut disembah (bd. Ayub 1:20 ; Yos. 5 :14). Harus dipahami bahwa Allah orang percaya adalah Allah yang transenden dan imanen. Allah yang “tidak sama dan terpisah dari ciptaanNya” juga merupakan Allahyang berkomunikasi dengan umat manusia. Allah menerima penyembahan dari umat-Nya.[5]
Pada waktu Allah memilih suatu bangsa bagi diri-Nya, Allah juga memberikan cara bagaimana bangsa itu dapat bertemu dengan TUHAN; jadi Dia memberikan ibadah tabernakel di mana Israel dapat menghadap Allah yang mahakudus. Di tempat ini TUHAN akan bertemu dengan Israel (Kel. 25:22; 29:42, 43; 30:6, 36).[6]
Kemudian, pelaksanaan ibadah itu berkembang menjadi ibadah umat. Musa adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai peletak dasar dari ibadah umat yang diorganisir, dan yang menjadikan Jahwe sebagai alamat ibadah satu-satunya. Ibadah umat diorganisir di dalam Kemah Pertemuan, dan upacaranya dipandang sebagai “pelayanan suci” dari pihak umat untuk memuji Tuhan.
Pada perkembangan selanjutnya, setelah Kemah Pertemuan, lahirlah Bait Suci dan Sinagoge sebagai tempat ibadah bagi Israel. Perkembangan ini didasari oleh pemahaman bahwa ibadah adalah merupakan faktor penting dalam kehidupan Nasional Jahudi. Bait Suci dihancurkan oleh Babel, dibentuk kebaktian Sinagoge karena pelaksanaan ibadah tetap dirasakan sebagai kebutuhan penting.
Disamping tempat ibadah, orang Jahudi juga memiliki kalender tahunan untuk upacara agamawi. Diantaranya yang amat penting adalah : Hari Raya Paskah (Kel. 12:23-27), Hari Raya Perdamaian (Im. 16 : 29 – 34), Hari Raya Pentakosta (bd. Kis.2), Hari Raya Pondok Daun, dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (Kel.12:14-20).
Pemimpin ibadah di Bait Suci dan Sinagoge adalah para Imam. Mereka adalah keturunan Lewi yang telah dikhususkan untuk tugas pelayanan ibadah. Para imam memimpin ibadah umat pada setiap hari Sabat dan pada Hari Raya agama lainnya. Ibadah di Sinagoge terdiri dari : Shema, doa, pembacaan Orang percayab Suci dan penjelasannya.
Ibadah juga berkaitan dengan kewajiban-kewajiban agama, yakni perintah-perintah Tuhan (pbd. Ul.11:8-11). Jadi, pada hakekatnya ibadah bukanlah hanya merupakan pelaksanaan upacara keagamaan di tempat-tempat ibadah, akan tetapi adalah mencakup pelaksanaan kewajiban agama, seperti : sunat, puasa, pemeliharaan Sabat, torat dan doa. Dengan demikian, ibadah juga harus mengandung makna bagi hidup susila.
Dalam Perjanjian Lama ada beberapa contoh ibadah pribadi (Kej.24:26; kel. 33:9-34:8). Tapi tekanannya adalah pada ibadat dalam jemaat (Mzm 42:4; I Taw 29:20). Dalam kemah pertemuan dan dalam Bait Suci tata upacara ibadah adalah yang utama. Terlepas dari korba-korban harian setiap pagi atau sore, perayaan Paskah dan penghormatan Hari Pendamaian merupakan hal penting dalam kalender tahunan Yahudi. Upacara agamawi berupa pencurahan darah, pembakaran kemenyan, penyampaian berkat imamat dan lain lain, cenderung menekankan segi upacaranya sehingga mengurangi segi rohaniah ibadahnya, dan bahkan sering memperlihatkan pertentangan antara kedua sikap itu (Mzm 40:6; 50:7-15; Mi. 6:6-8). Tapi banyak ibadah di Israel yang dapat mengikuti ibadah umum misalnya di Mazmur 93; 95-100) dan doa –doa bersama misalnya Mazmur 60; 79; 80, dan memanfaatkanya untuk mengungkapkan kasih dan syukur mereka kepada Allah (Ul 11:13) dalam tindakan ibadah rohani batiniah yang sungguh-sungguh.
Ibadah umum yang sudah demikian berkembang yang dilaksanakan dalam kemah pertemuan dan Bait Suci, berbeda sekali dari ibadah pada zaman yang lebih awal ketika para Bapak leluhur percaya, bahwa Tuhan dapat disembah di tempat mana pun Dia dipilih untuk menyatakan diriNya. Tapi bahwa ibadat umum di bait Suci merupakan realitas rohani, jelas dari fakta bahwa ketika tempat suci itu dibinasakan, dan masyarakat Yahudi terbuang di babel, ibadat tetap merupakan kebutuhan dan untuk memenuhi kebutuhan itu ’diciptakanlah’ kebaktian sinagoge, yang terdiri dari:
1. Shema’
2. Doa-doa
3. Pembacaan Orang percayab Suci
4. Penjelasan
Tapi kemudian di Bait Suci yang kedua kebaktian-kebaktian harian, sabat, perayaan-perayaan tahunan dan puasa-puasa, serta pujian dan buku puji-pujian memastikan, bahwa ibadah tetap merupakan faktor amat penting dalam kehidupan nasional Yahudi.[7]
Alorang percayab menunjukkan kepada orang percaya bahwa ibadah secara mendasar adalah merupakan satu respons sebagai pribadi atau sebagai jemaat kepada perbuatan Allah yang Mahatinggi. Pola ini dapat ditemukan di dalam Alorang percayab sebagai berikut; Allah yang Mahakuasa bertindak atas nama umat Allah; umat Allah berespons dengan ucapan syukur dan pujian; Allah menerima tindakan ibadah mereka. Pola ini secara konsisten dapat ditemukan di dlam seluruh bagian Alorang percayab, dengan titik pusat kebenarannya adalah di dalam ibadah, Allah adalah inisiator. Atau dengan kata lai, ibadah adalah satu respons manusia kepada inisiatif Allah[8]
Ekspresi ibadah dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan dalam kisah pemanggilan Abraham sebagai Bapak bangsa-bangsa. Panggilan Abraham disertai janji-janji berkat Allah seperti kemasyuran, pengaruh, keturunan dan pemilik tanah. Sebagai respons Abraham terhadap janji-janji ini, Abraham menyembah Allah dengan membuat mezbah (Kej. 12:7-8; 13:18). Dan mempersembahkan kurban (Kej. 15:1-11; 22:13-14). Kemudian juga ketika Nuh keluar dari bahtera setelah Air Bah tindakan pertamanya adalah membangun mezbah dan beribadah kepada Tuhan (Kej. 8:20) ini merupakan catatan pertama di Perjanjian Lama tentang ibadah kepada Tuhan melalui korban penumpahan darah di atas mezbah. Persembahan korban bakaran kemudian dinyatakan sebagai korban persembahan (Im. 1:1-7)[9] Selanjutnya dalam kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir, ibadah mejadi dasar dan sebagai blueprint untuk semua bentuk ibadah masa depan. Allah menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan adalah peristiwa penting dalam Perjanjian Lama. Inilah salib dan kebangorang percayan dalam Perjanjian Lama yang digenapi di dalam Perjanjian Baru.[10] Keluaran telah memberikan kepada Israel beberapa jalan untuk beribadah kepada Allah. Ekspresi utama termasuk mempersembahkan korban binatang pada Paskah (Kel.12:1-28), mempersembahkan semua yang sulung atau pertama lahir kepada Tuhan menjadi milik Tuhan (Kel.13:1-2), dan menyanyikan puji-pujian dengan sorak sorai dan penuh kemenangan yang dipimpin oleh Musa dan Miriam (Kel.15:1-21).
Di Gunung Sinai Allah menentukan tiga hari raya yang harus diadakan dalam rangka mempersembahkan ibadah kepada Allah setiap tahun. Pertama, hari raya roti tidak beragi, kedua, hari raya menuai dan ketiga, hari raya pengumpuan hasil (Kel.23:14-19). Perintah ini telah tertanam di dalam kesadaran umat Tuan bahwa ibadah melibatkan pengertian waktu yang kudus.[11]
Kemudian pertemuan Allah dengan Musa, Harun, Naab dan Abihu dan tujuh puluh tua-tua Israel di Gunung Sinai (Kel.24:1-8) adalah bagian penting. Ini adalah pertemuan antara Allah dan Israel. Pertemuan ini berisi struktur elemen-elemen dasar bagi pertemuan antara Allah dan umat-Nya.[12] Elemen-elemen ini sangat penting bagi ibadah umum, yang kemudian akan ditentukan detailnya dalam ibadah Yahudi dan Kristen. Selanjutnya Webber mengemukakan ada lima elemen, yaitu:
Pertama, ibadah adalah pangilan Allah. Allah yang memanggil umat-Nya untuk bertemu dengan-Nya;
Kedua, Umat Tuhan diatur dalam satu tanggungjawab terstruktur. Artinya ada yang bertanggungjawab. Musa adalah pemimpin. Tetapi untuk mengatur ibadah dan lain-lainnya adalah tugas Harun, Nadab, Abihu. 70 tua-tua Israel, pemuda dan umat. Dengan kata lain, elemen kedua adalah soal partisipasi dalam ibadah;
Ketiga, pertemuan antara Allah dan Umat bersifat proklamasi Firman. Allah berbicara kepada umat-Nya dan memperkenalkan diri-Nya kepada mereka. Hal ini berarti ibadah belumlah lengkap tanpa mendengar Firman Tuhan;
Keempat, umat setuju dan menerima perjanjian dengan syarat-syaratnya yang memberi makna kepada komitmen umat secara subjektif untuk mendengar dan taat kepada Firman Allah. Dengan kata lain, aspek penting dalam ibadah disini adalah pembaharuan komitmen pribadi secara terus-menerus. Di dalam ibadah umat Tuhan membaharui janji yang telah ada antara Allah dan umat-Nya sendiri;
Kelima, puncak hari pertemuan itu ditandai dengan symbol pengesahan, satu materai perjanjian. Dalam Perjanjian Lama Allah selalu menggunakan darah korban sebagai materai hubungan-Nya dengan manusia. Pengorbanan ini menunjuk kepada korban Yesus Kristus.[13]
Dengan demikian Allah adalah pusat ibadah Perjanjian Lama. Umat Tuhan atau manusia beribadah adalah sebagai respons dalam ucapan syukur kepada karya Allah di dalam hidup manusia.

C. RELEFANSI BAGI GEREJA MASA KINI
Kehidupan umat percaya dalam Perjanjian Lama sangat memberikan dampak yang baik bagi orang percaya untuk kehidupan bergereja pada zaman sekarang ini. Kebanyakan orang percaya hanya mengerti bagaimana orang percaya pergi ke gereja dan pulang dengan membawa pengertian yang baru dari firman yang dijelaskan oleh pendeta. Namun orang percaya tidak pernah memaknai apa arti dari ibadah yang orang percaya laksanakan itu., untuk itu orang percaya perlu mencontohi cara hidup umat perjanjian lama atau nabi-nabi yang ada dalam perjanjian lama, supaya kerohanian orang percaya bisa bertumbuh dengan baik. Agar kerohanian dapat bertumbuh, orang Kristen seharusnya berperan di dalam gereja sebagai berikut:
1.      Ibadah
Allah pernah memberi perintah kepada orang percaya untuk menjadi anggota anggota dalam persekutuan. Perjanjian Lama mencatat bangsa Israel setiap tahun mempunyai banyak hari raya, pertemuan kudus dan hari peringatan tradisional. Allah dengan jelas berfirman, "Kamu adalah umatKu. Kamu harus datang ke hadapanKu mempersembahkan diri untuk beribadah kepadaKu".(Imamat 23). Bila orang percaya memasuki ibadah dalam persekutuan orang Kristen, orang percaya telah mengambil bagian dalam empat fungsi ibadah: perayaan, pendidikan, pertobatan dan penyerahan diri. Ibadah merupakan suatu perayaan. Dari ibadah bangsa Israel dalam Perjanjian Lama dan ibadah jemaat dalam Perjanjian Baru, sampai ibadah jemaat gereja masa kini, seluruhnya meninggikan dan merayakan kuasa abadi dan kasih setia Allah. Melalui Yesus Kristus menyelesaikan karya besar penyelamatan dan penebusan umat sederhana, juga merayakan karya ajaib Roh Kudus hingga kini, melalui jemaat memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama. Dalam ibadah terdapat pendidikan. Dalam ibadah Allah berfirman kepada orang percaya melalui Roh Kudus. Dia membimbing orang percaya ke jalan yang benar. Tatkala Firman Tuhan dibacakan, diceritakan atau disampaikan, Roh Kudus juga berkarya menggerakkan orang percaya, berfirman kepada orang percaya, mendidik dan membimbing orang percaya agar kerohanian orang percaya dapat bertumbuh. Dalam ibadah orang percaya sadar akan dosa orang percaya dan bertobat. Mendengar Firman Tuhan dalam ibadah, orang percaya memberi respon terhadap Firman Allah biasanya berupa puji-pujian dan perayaan. Tetapi ada juga respon lebih khusus yakni kesadaran akan dosa dan pertobatan pribadi. Contohnya, ketika nabi Yesaya melihat Kemuliaan Allah, dia menyadari kenajisan dan dosa dalam dirinya. Yesaya 6 Penyerahan diri dalam ibadah. Tatkala orang percaya melihat dosa dan kenajisan yang ada dalam diri orang percaya dan Allah dengan kasih setiaNya mengampuni dosa orang percaya, menyucikan dan menerima orang percaya, sepatutnya orang percaya sekali lagi menyatakan komitmen orang percaya mempersembahkan diri untuk hidup bagi Tuhan.
2.      Persekutuan
Jemaat sekarang ini harus memiliki cara hidup yang sama seperti kehidupan orang-orang Kristen dalam masa perjanjian lama dimana mereka hidup bersatu dalam persekutuan dan saling mendukung satu dengan yang lain. Persekutuan yang baik akan mennghasilkan cara hidup jemaat yang baik pula. Kehidupan persekutuan berfungsi sebagai Terang dan Garam. Dalam persekutuan di gereja, jemaat harus berperan sebagai Terang dan Garam. Dalam persekutuan jemaat timbul wujud masyarakat baru. Dalam Alorang percayab tertulis, "Demikian juga orang percaya, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus, tetapi orang percaya masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain" (Roma 12 : 5). Persekutuan jemaat merupakan model kehidupan baru dari persekutuan umat Allah. Di dalamnya terdapat bagi rasa, pengajaran, penghiburan dan nasehat. Kehidupan jemaat seperti bara api, bila berpisah dari sumber api akan kehilangan energi panasnya. Dalam Alorang percayab dikatakan "menjadi satu dengan Kristus" artinya adalah menjalin hubungan erat dengan anggota tubuh Allah lainnya. Saling berpengaruh dalam karunia roh agar hidup berkelimpahan.
3.      Kesaksian
Dalam zaman Perjanjian Lama banyak nabi-nabi yang kehidupannya menjadi saksi bahwa Tuhan itu adalah Allah yang luar biasa, sehingga dari hidup mereka, banyak orang yang diselamatkan oleh nama Allah dan banyak orang yang bertobat dan mengikuti apa yang telah difirmankan Allah lewat hamba-Nya. Peran jemaat di dalam gereja adalah 'saksi', memberi kesaksian tentang Allah yang penuh kasih, mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Jesus Kristus, disalibkan demi dosa manusia, mati menanggung dosa manusia, dan bangkit dari kematian supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal. Selain itu juga memberi saksi hidup dalam kehidupan memuliakan nama-Nya. Dalam Alorang percayab tertulis, "Jika engkau makan, atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." (I Korintus 10:31), memberi kesaksian bahwa orang percaya "saling memperhatikan, supaya orang percaya saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibrani 10:24). Inilah makna keberadaan gereja yang nyata.










BAB III
KESIMPULAN

Tidak dapat disangkal bahwa ibadah memegang peranan sentral dalam semua agama-agama di dunia ini. Tanpa ibadah, suatu agama akan kehilangan hakekatnya. Melalui ibadah manusia mengadakan hubungan vertikal dengan yang ilahi dan mewujudkan nilai-nilai rohaninya dalam kehidupan bersama (horisontal). Jadi idealnya, ibadah menjadi ciri dimana manusia hidup dalam relasi yang benar dengan Allah dan dengan sesamanya. Ibadah selalu berfokus tunggal yaitu ketika Allah bertindak menyatakan kasih-Nya kepada kita dan Ia jugalah yang mendorong tanggapan kita atas semua pernyataan kasih-Nya. Ibadah adalah jawaban manusia terhadap panggilan Allah, terhadap tindakan-tindakan-Nya yang penuh kuasa yang berpuncak pada tindakan pendamaian dalam Kristus. Ibadah adalah kegiatan puji-pujian dalam penyembahan yang mensyukuri kasih Allah yang merangkul kita dan kebaikan kasih-Nya yang menebus kita dalam Kristus, Tuhan kita. Ibadah adalah suatu ‘bakti’ kita kepada sang pencipta dan persembahan hidup kita secara keseluruhan kepada Allah. Banyak hal yang bisa kita contohi dari kehidupan orang-orang percaya yang ada dalam zaman perjanjian lama khususnya dalam hal cara mereka beribadah kepada Tuhan. Yang sangat ditekankan dalam perjanjian lama yaitu fokus kita kepada Tuhan dan cara hidup kita dengan sesama yang mencerminkan bahwa kita ini adalah umat Tuhan yang hidup dibawah aturan Tuhan dan melaksanakan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita, dan juga menjadi terang bagi orang-orang yang ada disekitar kita. Dengan cara seperti ini, maka kehidupan gereja masa kini akan menjadi berkembang baik secara kuantitas maupun kualitas.












DAFTAR PUSTAKA

,          
1967    New Bible Dictionary, Leicester: Inter-Varsity Press.
Cronbach A., 
1982    Worship in Old Testament, dalam The Interpreter’s Dictionary of the Bible. Editor by G.A. Buttrick, R-2, Nashville, Abingdon Press.
Enns, Paul
2006    The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi, Literatur SAAT, Malang.
D. J. Douglas,
Ensiklopedia Alorang percayab Masa Kini, YKBK/OMF.
Basden, Paul
1999    The Worship Maze, Downers Grove, Illionis Inter Varsity Press.
E. Robert Webber, 
1982    Worship Old & New, Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House.














DAFTAR ISI
BAB I
            Pendahuluan   ………………………………………………………………            1
BAB II           
Ibadah Dalam Perjanjian Lama Dan Relefansiya Bagi
      Gereja Masa Kini              ……………………………………………....            2
Definisi Ibadah           ………………………………………………………            2
Konsep ibadah menurut PL                ………………………………………            2
Relefansi Bagi Gereja Masa Kini                                ………………………            6
BAB III
            Kesimpulan                 ………………………………………………………            9
DAFTAR PUSTAKA                        ………………………………………………………            10



[1] A. Cronbach, Worship in Old Testament, dalam The Interpreter’s Dictionary of the Bible. Editor by G.A. Buttrick, R-2, Hal. 879. Nashville, Abingdon Press, 1982
[2] New Bible Dictionary, Leicester: Inter-Varsity Press, 1967. Hal. 1262
[3] Ibid, A. Cronbach,  halaman 879; NBD, ibit halaman 1262
[4] Ibid, New Bible Dictionary. Hal. 1262
[5] Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi, Literatur SAAT, Malang, 2006, hal. 54
[6] Ibid Paul Enns, hal.65
[7] J. D. Douglas,Ensiklopedia Alorang percayab Masa Kini, YKBK/OMF, hal 409
[8] Paul Basden, The Worship Maze, Downers Grove, Illionis Inter Varsity Press, 1999, hal. 17
[9] Op.cit Paul Enns, The Moody…, hal.51
[10] Op.Cit Basden, The Worship maze, hal.20
[11] Ibid Basden, The Worship maze, hal.20
[12] Robert E. Webber, Worship Old & New, Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1982. hal. 24.
[13] Ibid hal.24 

Laporan Bacaan “Kepemimpinan yang Berani” oleh Bill Hybels, AGUS



Nama              : Agus Sriyanto
Semester         : VII
M. Kuliah       : Kepemimpinan
Dosen              : Pdt. Waharman
Tugas              : Laporan Bacaan “Kepemimpinan yang Berani” oleh Bill Hybels

Selama tiga puluh tahun Bill menahan diri untuk memulai menulis buku ini. Pengalamannya memimpin di Willow Creek Community Church selama kurun waktu tersebutlah yang memotivasinya untuk menulis buku ini. Dalam penuturannya sendiri Bill mengatakan bahwa tidak ada buku yang dia tulis dengan begitu bersemangat kecuali buku ini. Kenapa Bill harus menahan diri? Karena menurutnya ia belum siap, ada banyak hal yang menurutnya harus dijalani terlebih dahulu sehingga ia beroleh “bumbu” untuk penulisan buku ini. “Bumbu” yang dimaksud adalah termasuk berbagai kesalahan yang ia lakukan semasa ia memimpin.
 Ada satu tokoh semasa Bill kuliah yang ikut memberikan andil dalam pembentukan visinya beliau adalah seorang profesor, Dr. Gilbert Bilezekian. Profesor tersebut mengingatkannya akan komunitas gereja di abad pertama di mana semua anggota jemaat begitu melebur, tanpa dinding, dan semakin hari semakin banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan. Latar belakang yang lain adalah keyakinan Bill pada kekuatan gereja lokal. Lewat buku ini Bill berharap agar siapapun yang membacanya dapat menerapkan dan mengembalikan gereja si pembaca seperti tujuan gereja yang mula-mula: suatu kekuatan yang tidak dapat dikalahkan oleh kuasa kegelapan.

Pesan dari Buku
Para pemimpin 360 derajat tidak hanya mengarahkan bakat kepemimpinannya ke Selatan yaitu ke orang-orang yang dibimbingnya. Mereka juga belajar memimpin ke Utara yaitu dengan mempengaruhi orang-orang yang memiliki otoritas diatas mereka, dan juga memimpin ke Barat dan ke Timur dengan memberikan dampak pada rekan se level mereka. Tetapi yang paling penting, mereka belajar bagaimana menjaga jarum kompas agar tetap di tengah dengan memimpin diri mereka sendiri – dengan menjaga kehidupan mereka tetap pada jalurnya sehingga mereka bisa tetap menyediakan arah yang maksimal untuk orang lain. Ini adalah buku yang paling penting yang pernah ditulis olehnya, Bill Hybels membagikan apa yang telah ia pelajari tentang kepemimpinan Kristen dalam masa 30 tahun menggembalakan Willow Creek.

            “Kepemimpinan yang Berani” menawarkan strategi yang telah terbukti dan terus diperbaharui. Lebih dari itu, buku ini juga memberikan inti dari kepemimpinan Kristen yang paling terkemuka  komitmennya yang kuat pada penginjilan dan pemuridan dan semangatnya untuk menginspirasi rekan-rekan sesama pemimpin gereja sama seperti ia tetap menjaga dirinya untuk terus bertumbuh sebagai seorang pemimpin.

Inti tulisan
Ada 12 bab isi keseluruhan dari buku ini. Kedua-belas bab tersebut adalah sebagai berikut:
I. Resiko-resiko kepemimpinan
Bab ini dibuka dengan peristiwa yang terjadi pada 11 September 2001 yang menimpa World Trade Center. Bab ini juga mengingatkan pembaca bahwa gereja setempat adalah harapan dunia. Supaya gereja bisa menjadi harapan dunia harus ada pemimpin yang berkarunia yang mau memberikan visinya bagi gereja.

II. Senjata seorang pemimpin yang paling ampuh
            Bab ini mengingatkan bahwa visi adalah senjata seorang pemimpin yang paling ampuh. Ada yang menarik dalam bab ini ketika Bill mengandaikan jika Bob Pierce, pendiri World Vision mengabaikan anak-anak yang kelaparan karena waktu itu Bob hanya seorang diri. Ternyata Bob tidak mengabaikan visi yang Allah berikan padanya.

III. Kepemimpinan Aktif
Bab ini berusaha memberikan beberapa arahan bagaimana mengubah suatu visi ke dalam tindakan. Bagaimana visi mulai dimurnikan, tujuan mulai ditetapkan, membagikan visi itu, dan mencari orang-orangnya.

IV. Membangun tim impian
            Inti sebenarnya adalah membangun komunitas yang dekat dengan hati seorang pemimpin. Untuk membangun sebuah tim langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendefinisikan tujuan tim, kemudian menentukan kriteria tim. Setelah menentukan kriteria dimulailah melihat kompetensi yang dibutuhkan. Namun dalam bab ini juga dijelaskan bahwa selain kriteria dan kompetensi tetap dibutuhkan kecocokan antar anggota tim.
Bab ini juga menegaskan bahwa tim yang baik akan berhasil jika dipimpin oleh pemimpin yang baik pula. Tanpa pemimpin yang baik sebuah tim tidak akan dapat berkembang dan menghasilkan.

V. Ditantang mengelola sumber daya
Ujian terhadap keberanian seorang pemimpin sebenarnya yang dibahas daam bab ini. Segala hal mengenai keuangan, berbagai kisah-kisah Bill bertahan dalam posisi keuangan yang sulit, dan beberapa kebenaran yang ia bagikan mengenai sumber daya ada dalam bab ini.
Bab ini juga memberikan beberapa pedoman untuk merekrut staf gereja. Mendapatkan staf yang kompeten, memberikan penghargaan kepada staf dan beberapa prinsip bahwa pelayan haruslah memperoleh imbalan yang sesuai dengan pelayanannya.

VI. Mengembangkan para pemimpin yang sedang bangkit
Ada 3 fase yang harus dilewati untuk pengembangan kepemimpinan yang sedang bangkit yaitu: mengidentifikasi para pemimpin yang sedang bangkit, menanamkan investasi dalam pengembangan para pemimpin yang sedang bangkit, dan mempercayakan tanggung jawab pada para pemimpin yang sedang bangkit.
Dalam bab ini juga dibahas mengenai kualitas yang Bill cari dalam mengidentifikasi para pemimpin yang sedang bangkit yaitu: pengaruh, karakter, keahlian, semangat, dan kecerdasan.
Bab ini juga mengajak pembaca untuk mulai mengidentifikasi rencana pengembangan kepemimpinan masing-masing melalui 3 fase tersebut. Bill juga kembali menegaskan bahwa kepemimpinan ada dalam kondisi terbaik saat melihat banyak orang menjadi pemimpin baru dalam keefektifan mereka.

VII. Menemukan dan mengembangkan gaya kepemimpinan anda sendiri
Bab ini membahas 10 gaya kepemimpinan. Dari gaya visionaris sampai gaya kepemimpinan yang menjembatani. Inti sebenarnya dari bab ini adalah memberikan kunci menuju kepemimpinan yang berpengaruh besar melalui penemuan dan pengembangan gaya kepemimpinan. Bill menawarkan empat langkah untuk hal ini.

VIII. Indera keenam seorang pemimpin
Di sini kita diajak untuk belajar tentang sumber-sumber yang bisa kita gunakan untuk mengambil keputusan. Ada empat sumber data: keyakinan diri, dari pengalaman pemimpin lain/ konsultasi dengan para mentor, kisah-kisah yang penuh penderitaan, dan Roh Kudus.

IX. Seni memimpin diri sendiri
Bab ini mengajar tentang seorang pemimpin 360 derajat dimana ada arah Utara, Selatan, Barat, dan Timur. Utara berbicara mengenai orang-orang di atas kita, Selatan berbicara mengenai orang-orang yang dalam tanggung jawab kita, dan Barat – Timur berbicara mengenai rekan-rekan sesama pemimpin.
Dalam bab ini Bill juga mengajak agar para pemimpin mengajukan beberapa pertanyaan pada diri sendiri secara berkala untuk menjaga agar tetap konsisten.

X. Doa seorang pemimpin
Dalam bab ini ada berbagai permohonan doa agar Tuhan mau membentuk diri kita seturut beberapa contoh pemimpin yang berkarakter seperti: Daud, Yonatan, Yusuf, Yosua, Ester, Salomo, Yeremia, Nehemia, Petrus, dan Paulus.

XI. Jalan hidup Sang pemimpin
Di sini kita diajak untuk membangun jalan spiritual yaitu relasi yang vital bersama Allah. Ada beberapa jalur untuk membangun jalan tersebut: jalur relasional, jalur intelektual, jalur pelayanan, jalur kontemplatif, jalur aktivis, jalur penciptaan, dan jalur ibadah. Bill mengajak kita menemukan jalur kita sendiri dan mendalami jalur tersebut. Setelah itu kita bisa membantu orang lain menemukan jalur mereka.

XII. Mengembangkan semangat yang tak pernah pudar
Bab ini mengajak kita untuk mempertahankan tujuan dengan beberapa cara: memastikan kembali panggilan kita, mengembangkan keberanian untuk berubah, menemukan orang-orang yang dapat diandalkan, dan bertahan dengan sudut pandang yang abadi.